Minggu, 08 Januari 2012

Hubungan Agama dan Sains


BAB I
PENDAHULUAN

Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan lahirnya agama, menjadikan umat manusia memiliki iman yang menjadikan hidupnya lebih terarah, berkat agama pula telah menjadikan manusia lebih beretika, bermoral dan beradab. Sementara sains yang memberikan banyak pengetahuan kepada manusia, dengan semakin berkembangnya sains akan memajukan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang serta memberikan kemudahan fasilitas yang sangat menunjang keberlangsungan hidup manusia.
Sains dan agama berbeda, karena mereka memiliki paradigma yang berbeda pula, pengklasifikasian secara jelas antara sains dan agama menjadi suatu trend tersendiri di masyarakat zaman renaissance dan trend ini menjadi dasar yang kuat hingga pada perkembangan selanjutnya. Akibatnya, agama dan sains berjalan sendiri-sendiri dan tidak beriringan, maka tak heran kalau kemudian terjadi pertempuran di antara keduanya. Sains menuduh agama ketinggalan zaman, dan agama balik menyerang dengan mengatakan bahwa sains sebagai musuh Tuhan.
Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, hubungan sains dan  agama tak selalu harmonis dan beriringan. Hubungan agama dan sains bukanlah polemik yang baru-baru saja menggulir dalam dunia keilmuwan. Konflik ini telah ada sejak beberapa abad yang lalu. Sejak pertengahan abad ke-15 agama dan sains adalah dua esensi yang sangat berbeda dan bertentangan. Pengetahuan saat itu sangat didominasi oleh kekuasaan Gereja yang bertolak pengetahuan filsafat Yunani serta kitab mereka Injil. Otoritas tertinggi adalah gereja, apabila sains atau pengetahuan tidak sejalan dengan gereja dan ijnjil maka dianggap sesat. Dalam jangka waktu yang relatif lama belum ada solusi yang barhasil untuk mendamaikan keduanya. Banyak ilmuwan yang merasa terbelenggu karena tidak dapat mengembangkan kreatifitas mereka, mereka mencoba untuk melakukan perubahan dan membebaskan akal agar pengetahuan dapat berkembang dan tidak stagnan.
Bagaimana sekarang ini hubungan antara agama dan sains? Kemudian bagaimana dengan Islam dalam memandang sains? Dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai hubungan agama dengan sains, khususnya Islam dalam memandang sains.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Agama
Agama, sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia agama adalah Sistem atau kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut juga dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Sebagian orang apabila ditanya tentang agama maka  jawabannya adalah pegangan hidup yang dianutnya yang memberikan kedamaian. Indonesia merupakan negara pluralitas dan salah satunya dalam hal agama. Terdapat lebih dari 5 agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat indonesia antara lain, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, serta kepercayaan masyarakak (Animisme dan Dinamisme).
Kemudian bagaimana dengan Islam? Jika seseoang ditanya apakah itu Islam, jawabnya islam adalah agamaku. Agama yang seperti apakah Islam itu? Dalam bahasa Arab, perkataan "Islam" bermaksud "tunduk" atau "patuh". Jika seorang Muslim ditanya, "Apakah itu Islam?", biasanya dia akan menjawab, "Agama yang tunduk kepada Allah, satu-satu Tuhan yang benar." Tidak hanya bermakna demikian, Islam adalah agama yang diturunkan Allah yang memberikan keselamatan serta sebagai rahmat bagi seluruh alam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw yang memiliki kitab suci Al-qur’an sebagai pedoman hidup.
Islam muncul dunia yang fana ini untuk memberikana solusi serta menjawab permasalahan-permasalahan hidup dialami oleh manusia. Islam bukanlah satu golongan, kepentingan kelompok tertentu ataupun kepentingan politik lainnya dan juga Islam bukanlah semata-mata untuk umat Islam itu sendiri. Lebih dari itu, Islam diturunkan oleh Allah dengan suatu visi dan misi, yaitu untuk menyebarkan kebaikan dan keselamatan serta rahmat bagi seluruh alam.
وما ارسلنك ٳلا رحمۃ للعلمين ﴿١٠٧﴾  
Dan Kami tidak mengutus ngkau ( Muhammad) melainkan unutk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiya [21] : 07)
Islam tidak hanya mengatur urusan pribadi, juga bukan sekedar mengatur urusan ibadah ukhrawi. Islam telah menjadi way of  life, pandangan sekaligus pedoman hidup yang mengatur segala segi. Agama Islam menjadi alternatif yang mampu mengatur segala permasalahan hidup manusia. Agama islam menjadi solusi yang hakiki, yang mampu mengatur setiap dimensi kehidupan manusia serta mempunyai keleluasaan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan manusia.
Al-Qur’an sebagai sumber sains dan pengetahuan spiritual. Al-Qur’an merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama tetapi bagi semua jenis ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bukan lah kitab sains tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual (Bakar, 1994 : 74).

B.     Sains
Kata sains berasal dari kata science, scienta, scine yang artinya mengetahui. Dalam kata lain, sains adalah logos, sendi, atau ilmu. Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam (Sudjana, 2008 : 3-4). Sains yang dipahami dalam arti sebagai pengetahuan obyektif, tersusun, dan teratur tentang tatanan alam semesta. Sains pada wilayah yang sempit atau spesifik dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan alam dan pada tataran yang luas dipahami sebagai sagala macam disiplin ilmu pengetahuan.
Djojosoebagio, S (1995) sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 4) mengemukakan beberapa sifat-sifat sains antara lain ;
1.         Kumulatif, artinya dinamis atau tidak statis karena selalu mencari tambahan ilmu mengingat kebenaran bersifat sementara.
2.         Ekonomis untuk penjelasan-penjelasan dan kaidah-kaidah yang kompleks., formulasinya sederhana, susunannya ekonomis sehingga dipakai istilah pendek, simbol dan formula.
3.         Dapat dipercaya atau diandalkan untuk meramalkan sesuatu dan lebih baik hasilnya daripada pekerjaan berdasarkan perkiraan saja.
4.         Mempunyai daya cipta tentang sesuatu
5.         Dapat diterapkan untuk menganalisis perilaku atau kejadian-kejadian alamiah.
Ciri-ciri sains menurut Melsen (1994) yang dikutip oleh Sudjana (2008 : 4-5)  dalam buku yang sama antara lain ;
1.         Secara metodis, harus mencapai suatu keseluruhan logika kolumer,
2.         Harus tanpa pamrih,
3.         Universalisme,
4.         Objektifitas,
5.         Intersubjektifitas
6.         Progresif
Perbedaan karakteristik agama dan sains ;
No
Karakteristik
Agama
Sains
1
Sumber
Akal, rasio, Ro’yu
Wahyu (Alqur’an dan Hadist)
2
Obyek
fisik, sebab-akibat, kausalitas
makna (meaning), nilai (values), moral: baik-buruk, pahala-dosa, surga-neraka
3
Pertanyaan
how (bagaimana)
why (mengapa)
4
Sifat
tertutup, menginformasikan, menjelaskan
terbuka, mengungkapkan, mereformasi
5
Karakter
metrical, terukur dg ‘angka’
non-metrical
6
Isi
logika, teoretik, kaidah, predicable à futuristic
iman, wahyu
7
Operasi
 pengalaman, empiric, instrumentatif
sami’na wa atho’na, taken for granted
8
Keterlibatan
 tidak, ‘penonton’
 terlibat, pelaku

C.    Perkembangan Sains
Hingga abad ke-15, pengetahuan ilmiah dikuasai oleh sedikit sistem utama yang bersifat statis dan dogmatis. Terutama fisika Aristotelian, sistem astronomi Ptolemic, Kedokteran Galen, dan Kimia Jabirian, sehingga ilmu pengetahuan menjadi sukar ditempuh dan berkembang lebih lanjut (Hassan, 2008 : 63-64). Benturan agama dan sains telah dimulai sejak saat itu. Dimana pemegang kekuasaan tertinggi adalah Gereja. Ajaran Gereja sangatlah dominan, dimana segala pengetahuan haruslah sejalan dengan Injil. Ilmu pengetahuan dikendalikan oleh gereja dan pendeta atau biarawan. Apabila tidak sependapat maka dianggap sesat dan akan dibunuh. Hal ini mendorong semangat Renaissance untuk melakukan perlawanan dalam upaya  pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengatahuan dan tidak lagi bertolak pada filsafat Yunani seutuhnya yang menjadi dasar filsafat Kristen dengan Injilnya. Hal ini menunjukkan kelangkaan ilmiah di Eropa pertengahan abad ke-14 dan ke-15. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan sebuah pembaharuan atau pergeseran sistem sistem yang dominan tersebut. Dengan kata lain diperlukan sebuah revolusi dalam rangka pembebasan akal dari dominasi Gereja.
Revulusi ilmiah pertama dimulai oleh Copernicus pada tahun 1543, tetapi aktifid ini tidak efektif hingga pertengahan abad ke17. Pada abad ke-12 Eropa mengalami Renaissane dalam sains. Akhir abad tersebut , karya-karya bahasa arab diterjemahkan ke bahasa latin. Selama empat abad (ke-12 sampai ke-16), ilmu pengetahuan Eropa tidak membantu apa yang diterjemahkan dari karya yang berbahasa arab, dan pada abad ke-17 barulah revolusi ilmiah benar-benar dimulai (Hassan, 2008 : 64).
Beberapa tokoh Renaissance antara lain Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan Heliosentrisnya, yaitu teori mengenai Matahari sebagai pusat tata surya. Teori ini didukung oleh Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Dan juga Fransis Bacon (1561-1626) dengan teknik berfikir induktifnya, yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (logika silogisme) yang diajarkan pada abad pertengahan (Sudjana, 2008 : 6)
Pemikiran tokoh Renaisance tersebut dianggap bertentangan dengan gereja yang memiliki pandangan Geosentris yaitu Bumi sebagai pusat tata surya. Otoritas gereja saat itu tidak dapat ditentang sehingga mereka mengalami penyiksaan dibakar hidup-hidup oleh Gereja karena kokoh memegang apa yang diyakininya.
Selanjutnya datanglah masa pencerahan (aufklarung) pada abad XVII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727), sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya dimana fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia, manusia dan Tuhan. Sementara pada abad aufklarung pembahasannya lebih luas mencakup segala aspek kehidupan manusia (Sudjana, 2008 : 8).

D.    Tipologi hubungan Sains dan Agama
Agama dan Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak kalangan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Sekelompok orang berpendapat agama tidak mengarahkan pada jalan yang dikehendakinya dan agama juga tidak memaksakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. Kelompok lain berpandapat bahwa sains dan agama tidak akan pernah dapat ditemukan, keduanya adalah entitas yang berbeda dan berdiri sendiri, memiliki wilayah yang terpisah baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, serta peran yang dimainkan. 
 
1.      Tipologi Ian G. Barbour
a.    Konflik
Pandangan konflik ini mengemuka pada abad ke–19, dengan tokoh-tokohnya seperti: Richard Dawkins, Francis Crick, Steven Pinker, serta Stephen Hawking. Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Bahwa sains dan agama memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Menolak agama dan menerima sains, ata sebaliknya. Masing-masing menghimpun penganut dengan mengambil posisi-posisi yang bersebrangan. Sains menegasikan eksistensi agama, begitu juga sebaliknya. Keduanya hanya mengakui keabsahan eksistensi masing-masing. Agama dan sains adalah dua ekstrem yang saling bertentangan, saling menegasikan kebenaran lawannya.
Barbour menanggapi hal ini dengan argumen bahwa mereka keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Kepercayaan agama menawarkan kerangka makna yang lebih luas dalam kehidupan. Sedangkan sains tidak dapat mengungkap rentang yang luas dari pengalaman manusia atau mengartikulasikan kemungkinan-kemungkinan bagi tranformasi hidup manusia sebagaimana yang dipersaksikan oleh agama. (Barbour, 2006 : 224).
Dalam konflik pertentangan dipetakan dalam 2 bagian yang berseberangan :
§  Materialisme ilimiah
Asumsi : menganggap bahwa materi sebagai realita dasar alam (pentingnya realitas empiris), sekaligus meyakini bahwa metode ilmiah adalah satu-satunya cara yang sahih untuk mendapatkan pengetahuan.
§  Literalisme kitab suci
Satu-satunya sumber kebenaran adalah kitab suci, karena dianggap sebagai sekumpulan wahyu yang bersifat kekal dan benar karena bersumber dari Tuhan, sehingga tak memungkinkan bersumber dari yang lain termasuk alam semesta.
b.   Independensi
Memisahkan agama dan sains dlam wilayah yang berbeda, memiliki bahasa yang berbeda, berbicara mengenai hal-hal yang berbeda, berdiri sendiri membangun independensi dan otonomi tanpa saling mempengaruhi. Agama mencakup nilai-nilai, sedangkan sains berhubungan dengan fakta. Dibedakan berdasarkan masalah yang ditelaah, domian yang dirujuk dan metode yang digunakan.
Menurut Barbour (2006 : 66), Tuhan adalah transendensi yang berbeda dari yang lain dan tidak dapat diketahui kecuali melalui penyingkapan diri. Keyakinan agama sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan, bukan atas penemuan manusia sebagaimana halnya sains. Saintis bebas menjalankan aktivitas mereka tanpa keterlibatan unsur teologi, demikian pula sebaliknya, karena metode dan pokok persoalan keduanya berbeda. Sains dibangun atas pengamatan dan penalaran manusia sedangkan teologi berdasarkan wahyu Ilahi.
Barbour mencermati bahwa pandangan ini sama-sama mempertahankan karakter unik dari sains dan agama. Namun demikian, manusia tidak boleh merasa puas dengan pandangan bahwa sains dan agama sebagai dua domain yang tidak koheren.
Agama dan sains adalah dua domain yang terpisah yakni agama atau Tuhan hanya dapat dikenal sebagaimana yang diwahyukan, tidak dapat diketahui kecuali melalui penyingkapan diri. Sedangkan sains dapat dikenali melalui fenomena dan empiris. Sains dibangun berdasarkan pengamatan dan penalaran manusia, sedangkan teologi berdasarkan wahyu.
Sains dan agama ditafsirkan sebagai dua bahasa yang tidak saling berkaitan karena fungsi masing-masing berbeda. Bahasa agam adalah seperangkat pedoman yang menawarkan jalan hidup yang berprinsip pada moral tertentu, sedangkan sains dianggap sebagai serangkaian konsep untuk memprediksi dan mengontrol alam.
c.    Dialog
Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif daripada pandangan konflik dan independensi. Diakui bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan. Namun, dialog tidaak menawarkan kesatuan konseptual sebagaimana diajukan pandangan integrasi. Mengutamakan tingkat kesejajaran antara sains dan agama.
Dialog menekankan kemiripan dalam pra anggapan, metode dan konsep.
§  Pra anggapan dan pertanyaan batas
Memunculkan pertanyaan batas, mengajukan pertanyaan fundamental, ilmuwan dan agamawan dapat bekerja sama untuk menjelaskan.
§  Kesamaan metodologis dan konseptual
Sains tak selamanya obyektif, agama tidak selamanya subyektif.
Barbour (2006 : 32) memberikan contoh masalah yang didialogkan ini dengan digunakannya model-model konseptual dan analogi-analogi ketika menjelaskan hal-hal yang tidak bisa diamati secara langsung. Dialog juga bisa dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu pengetahuan yang mencapai tapal batas. Seperti: mengapa alam semesta ini ada dalam keteraturan yang dapat dimengerti? dan sebagainya. Ilmuwan dan teolog dapat menjadi mitra dialog dalam menjelaskan fenomena tersebut dengan tetap menghormati integritas masing-masing.
Dalam menghubungkan agama dan sains, pandangan ini dapat diwakili oleh pendapat Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind : science without religion is lame“. Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh. Demikian pula pendapat David Tracy, seorang teolog Katolik yang menyatakan adanya dimensi religius dalam sains bahwa intelijibilitas dunia memerlukan landasan rasional tertinggi yang bersumber dalam teks-teks keagamaan klasik dan struktur pengalaman manusiawi (Barbour, 2006 : 76).
d.   Integrasi
Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat daripada pendekatan dialog dengan mencari titik temu diantara sains dan agama. Sains dan doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.
Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam hubungan integrasi ini. Pendekatan pertama, berangkat dari data ilmiah yang menawarkan bukti konsklusif bagi keyakinan agama, untuk memperoleh kesepakatan dan kesadaran akan eksistensi Tuhan. Pendekatan kedua, yaitu dengan menelaah ulang doktrin-doktrin agama dalam relevansinya dengan teori-teori ilmiah, atau dengan kata lain, keyakinan agama diuji dengan kriteria tertentu dan dirumuskan ulang sesuai dengan penemuan sains terkini. Lalu pemikiran sains keagamaan ditafsirkan dengan filasafat proses dalam kerangka konseptual yang sama. Demikian Barbour menjelaskan tentang hubungan integrasi ini ( Ian G. Barbour, 2006 : 42 )
2.      Tipologi versi John Haught (1995)
Menurut Haught, hubungan agama dan sains diawali dengan titik konflik antara agama dan sains untuk mengurangi konflik, dilakaukan pemisahan yang jelas batas-batas agama dan sains agar tampak kontras / perbedaaan keduanya. Jika batas keduanya sudah terlihat, langkah berikutnya adalah mengupayakan agar keduanya berdialog / kontak. Setelah tahap ini dapat ditemukan kesamaan tujuan yaitu mencapai pemahaman yang benar tentang alam, selanjutnya antara agama dan sains saling melengkapi / konfirmasi.

E.     Pandangan Islam Mengenai Sains
Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta memikirkan segala apa yang ada di alam semesta ini.  Hal ini sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 33 yang artinya “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Dalam ayat tersebut Allah saw memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan pemikiran (menggunakan aklnya) dan eksplorasi terhadap alam semesta. Upaya penaklukan ruang angkasa harus dilihat sebagai suatu ibadah manusia yang ditujukan selain untuk memahami rahasia alam, juga demi masa depan kehidupan manusia.
Menurut Muhammad Ismail sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2008 : 12) mengatakan bahwa pemahaman Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang memiliki penunjukan-penunjukan nyata, yang dapat ditangkap dengan logika selama masih dalam batas jangkauan akalnya. Namun, bila hal-hal tersebut berada diluar jangkauan akalnya, maka hal itu ditunjukan secara pasti oleh sesuatu yang dapat diindera, tanpa rasa keraguan sedikitpun. Dengan demikian peranan akal bagi manusia sangatlah penting dan mendasar karena dengan akalnya ia dapat menentukan yang terbaik bagi dunia dan akhirantnya kelak.
Rosulullah saw pernah mengatakan bahwa tidak ada agama (Islam) tanpa adanya aktifitas akal. Artinya bagi seorang muslim, keyakinannya tentang Islam haruslah dibangun berdasarkan akal sehat dan penalarannya. Bukan hanya sekedar dogma yang dipaksakan atau informasi-informasi tanpa kenyataan. Akan tetapi, akal harus difungsikan sebagaimana mestinya (Sudjana, 2008 : 13).
Allah swt telah menurunkan mukjizat yang sangat berharga demi kelangsungan hidup manusia kepada nabi Muhammad saw berupa Al-Qur’anulkarim. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman hidup serta menyempurnakan kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad saw. Al-Qur’an bukan hanya sekedar kitan suci bagi umat Islam, tetapi Al-Qur’an bersifat universal yakni diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Al-Qur’an merupakan rujukan dari berbagai macam ilmu pengetehuan. Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi segala pengetahuan tentang sains hendaknya dirujukkan kedalam Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit telah menerangkan tentang segala apa yang ada dan terjadi dibumi ini dan dengan sains lah kita membuktikannya. Osman Bakar (1994 : 75) mengutip dari Brunner mengatakan bahwa seorang ilmuwan Muslim yang termashyur yaitu Ibnu Sina mengatakan jikalau sebuah sains disebut sains yang sejati apabila ia menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan tentang Prinsip Illahi.

F.     Studi Kasus : Bom GBIS Solo, Sebuah Penyelewengan terhadap Sains.
Minggu, 25 September 2011 adalah hari kelabu bagi jemaah Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton (GBIS Kepunton). Sebuah tragedi yang cukup mengerikan dan tidak akan terlupakan oleh mereka, yaitu peristiwa bom bunuh diri yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan orang lainnya. Korban tewas diduga adalah pelaku bom bunuh diri yang diidentifikasi sebagai Ahmad Yosepa alias Hayat.  Kapolri memaparkan bahwa bom bunuh diri GBIS kepunton, Solo terkait dengan bom cirebon.  Peledakan ini adalah upaya adu domba dan penyudutan terhadap kelompok tertentu, atau bahkan mengarah ke agama tertentu ke agama lain, dalam hal ini jemaat Kristen. Tujuannya agar terjadi pergesekan-pergesekan horizontal antaragama atau kelompok.
Sepenggal berita tersebut adalah sebuah kasus yang secara tidak langsung mengaitkan antara agama dengan sains. Dalam perakit bom diperlukan pengetahuan atau sains. Sains ini lah yang disalahgunakan atau diselewengkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peledakan bom ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Karena kekuatan dahsyatnya dapat meluluh lantahkan apa yang disekitarnya dan dapat menghilangkan banyak nyawa manusia. Semudah itu mereka menghilangkan nyawa manusia tanpa merasa bersalah. Bahkan mereka menganggap ini adalah jihad dan jalan menuju syurga.
Mereka mengatasnamakan jihad fisabilillah dan memerangi kaum kafir, namun cara yang mereka gunakan adalah suatu kesalahan besar.  Dalam hal ini mereka menyalahgunakan sains. Sains yang seharusnya digunakan untuk kemashlahatan umat, tetapi malah sebaliknya. Ini adalah sebuah penyelewengan terhadap sains. Mereka menggunakannya untuk menghancurkan sesamanya, yang mereka angggap sesat dan tidak sejalan dengan ideologi mereka. Mereka ini adalah sekelompok kecil dari umat Islam yang kurang memahami dengan baik agamanya. Mereka menelaah Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat islam tidak secara baik. Mereka hanya menerima apa yang terdapat dalam Al-Qur’an tanpa memahami makna yang sebenarnya, tanpa meresapi apa yang dikehendaki Allah dalam Al-Qur’an. Logika mereka memang berjalan, tetapi tidak dengan hatinya.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
§   Agama adalah suatu sistem kepercayaan yang datangnya dari Tuhan harus diterima dengan keyakinan, kebenaran disini akan menjadi rujukan bagi kebenaran-kebenaran yang lain.
§   Islam adalah agama yang diturunkan Allah yang memberikan keselamatan serta sebagai rahmat bagi seluruh alam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw yang memiliki kitab suci Al-qur’an sebagai pedoman hidup.
§   Sains dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebanaran berdasarkan fakta atau fenomena alam.
§   Sains pada wilayah yang sempit atau spesifik dapat dipahami sebagai ilmu pengetahuan alam dan pada tataran yang luas dipahami sebagai sagala macam disiplin ilmu pengetahuan.
§   Sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan manusia
§   Agama dan Sains tidak selamanya berada dalam pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak ilmuwan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya.
§   Ian G. Barbour mencoba memetakan hubungan sains dan agama melalui Tipologi Sains dan agama. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi.
§   John Haught juga ikut memetakan hubungan sains dan agama. Tipologinya terdiri dari empat macam pandangan yaitu : konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.
§   Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam menggunakan akalnya serta memikirkan segala apa yang ada di alam semesta ini.
§   Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi segala pengetahuan tentang sains hendaknya dirujukkan kedalam Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit telah menerangkan tentang segala apa yang ada dan terjadi dibumi ini dan dengan sains lah kita membuktikannya. 


DAFTAR PUSTAKA

Sudjana, Eggi, 2008, Islam Fungsional, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Bakar, Osman, 1994, Tauhid & Sains : Essai-essai tentang sejarah dan Filsafat Islam Sains, Bandung : Pustaka Hidayah
Barbour, Ian G, 2006, Isu dalam Sains dan Agama, Yogyakarta : penerbit Uin Sunan Kalijaga Yogakarta.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar